Biopolitik, dalam pemikiran Michel Foucault, merujuk pada cara kekuasaan modern bergerak melalui pengelolaan kehidupan. Kekuasaan tidak lagi berfokus pada raja yang mengambil nyawa; ia hadir sebagai mekanisme yang mengatur tubuh, kesehatan, populasi, dan proses biologis sehari-hari. Foucault menyebut ini sebagai biopower, bentuk kekuasaan yang menyelusup masuk ke dalam ritme kehidupan seperti kelahiran, penyakit, seksualitas, kebersihan, produktivitas.
Dalam
kerangka ini, negara modern memandang masyarakat sebagai populasi yang dapat
dihitung, diukur, dan dikalkulasi. Tubuh manusia menjadi sasaran intervensi
melalui regulasi kesehatan, sistem medis, pendidikan, serta mekanisme
administratif lain yang berorientasi pada pembentukan perilaku. Kekuasaan
menjadi produktif sebab ia membentuk norma tentang apa yang sehat, apa yang
layak, dan bagaimana seseorang seharusnya menjalani hidup. Ia menciptakan
kategori keluarga ideal, kebiasaan hidup rasional, serta standar tubuh yang
dianggap tepat oleh masyarakat modern. Semua itu muncul bukan sebagai paksaan
eksplisit, melainkan sebagai “kewajaran” yang diterima secara sukarela.
Citra
biopolitik terlihat jelas dalam praktik sehari-hari. Pertimbangkan smartwatch
atau aplikasi pelacak kesehatan. Alat-alat semacam ini tidak memaksa dengan
ancaman, melainkan mengarahkan seseorang untuk mengikuti standar kebugaran
tertentu. Ketika seseorang merasa bersalah karena langkah hariannya berkurang,
ia merespons struktur norma yang ditanamkan oleh sistem kesehatan digital. Ia
merasa seolah-olah tubuhnya gagal memenuhi standar yang berasal dari algoritma
dan pedoman kebugaran global.
Contoh
lain tampak dalam kampanye kesehatan publik. Anjuran diet rendah gula, program
vaksinasi nasional, atau penetapan jam olahraga wajib di sekolah muncul sebagai
bentuk pengaturan tubuh dalam skala massal. Panduan tidur bayi, aturan konsumsi
susu, dan grafik pertumbuhan anak juga sering menimbulkan rasa diawasi atau
dinilai oleh standar medis. Di ruang ini, yang privat berubah menjadi area
intervensi institusi kesehatan dan kebijakan negara.
Biopolitik
beroperasi pula dalam kebijakan demografi. Program keluarga berencana, slogan
“dua anak cukup” di Indonesia, atau insentif untuk meningkatkan angka kelahiran
di negara-negara lain, menunjukkan bagaimana tubuh warga negara terhubung
dengan strategi populasi. Keputusan beranak, menyusui, atau membentuk keluarga
memperoleh dimensi politis karena diposisikan sebagai bagian dari kebutuhan
negara.
Dalam
konteks ini, Foucault memberi kita lensa untuk membaca kehidupan modern secara
lebih kritis. Setiap norma tentang kesehatan, perilaku seksual, produktivitas,
dan reproduksi membawa dimensi kekuasaan yang mengatur bagaimana seseorang
hidup dan memahami tubuhnya. Keseharian kita, dari rutinitas olahraga hingga
pola makan, terikat pada rangkaian aturan yang tampak natural, padahal lahir
dari proses historis dan institusional yang sangat politis.
Kesadaran
atas biopolitik membuka ruang reflektif yang penting. Seseorang dapat bertanya:
Sejauh mana standar kesehatan yang diikuti merupakan keputusan pribadi, dan
sejauh mana ia hasil internalisasi regulasi yang bekerja di balik layar? Apakah
rasa bersalah karena tidak cukup produktif berasal dari keinginan diri sendiri,
atau dari norma masyarakat yang memuja efisiensi? Bagaimana keputusan
reproduktif, gaya hidup, dan rutinitas tubuh terbentuk oleh jaringan institusi
yang tak kasatmata?

0 Komentar