Ad Code

Responsive Advertisement

G e n e a l o g i: Nietzsche dan Foucault

Gagasan genealogi lahir sebagai cara berpikir yang curiga terhadap asal-usul. Ia menolak kisah yang rapi, linear, dan menenangkan tentang bagaimana nilai, kebenaran, dan identitas terbentuk. Dalam filsafat modern, genealogi menempati posisi penting melalui dua nama yang sering dibaca bersama, yaitu Friedrich Nietzsche dan Michel Foucault. Keduanya sama-sama menggunakan genealogi untuk membongkar ilusi asal-usul yang murni, tetapi tujuan, fokus, dan medan kerjanya menunjukkan perbedaan yang menentukan.


Pada Nietzsche, genealogi muncul sebagai kritik radikal terhadap moralitas Barat. Nietzschemenelusuri bagaimana konsep “baik” dan “jahat” terbentuk melalui relasi kekuatan, ressentiment, dan pembalikan nilai. Genealogi di sini bekerja sebagai pisau tajam yang memotong klaim moral universal, lalu memperlihatkan bahwa nilai-nilai luhur yang tampak netral sesungguhnya lahir dari konflik historis antara kelompok kuat dan lemah. Dalam pembacaan Nietzsche, moralitas tidak turun dari langit atau lahir dari rasio murni. Ia tumbuh dari luka, dendam, dan strategi bertahan hidup. Dengan demikian, kebenaran moral tampil sebagai hasil pergulatan kekuatan yang membeku menjadi kebiasaan.

Secara filosofis, genealogi Nietzsche bersifat evaluatif dan afektif. Ia ingin mengguncang pembaca agar menyadari bahwa nilai-nilai yang dipegang dengan penuh keyakinan sering kali berakar pada kondisi psikologis dan historis yang rapuh. Genealogi menjadi alat untuk mengungkap kehendak untuk berkuasa yang bersembunyi di balik bahasa kebajikan. Ia tidak menawarkan rekonstruksi institusional, melainkan mendorong pembaca untuk melakukan penilaian ulang terhadap nilai hidupnya sendiri. Dari sini, genealogi menjadi latihan pembebasan yang berbahaya, karena ia membuka kemungkinan hidup tanpa sandaran moral yang mapan.

Dalam kehidupan sehari-hari, pendekatan Nietzsche terasa ketika seseorang mulai mempertanyakan rasa bersalah yang otomatis muncul saat melanggar norma sosial. Mengapa bekerja lembur dianggap bermoral, sementara beristirahat sering dipandang malas? Genealogi Nietzsche mengajak menelusuri bagaimana etos kerja terbentuk melalui sejarah disiplin tubuh, asketisme, dan pengagungan penderitaan. Rasa bersalah itu tidak lagi tampil sebagai suara hati yang murni, melainkan sebagai gema panjang dari sejarah nilai yang menuntut tubuh untuk tunduk.

Foucault mengambil inspirasi dari Nietzsche, lalu menggeser genealogi ke medan yang lebih empiris dan analitis. Genealogi Foucault tidak berfokus pada asal-usul nilai moral semata, melainkan pada pembentukan pengetahuan, subjek, dan praktik sosial. Ia menelusuri bagaimana kebenaran diproduksi melalui institusi, diskursus, dan teknik kekuasaan. Genealogi, di tangan Foucault, menjadi metode untuk membaca arsip, kebijakan, dan praktik sehari-hari yang membentuk cara manusia memahami diri dan dunia.

Secara filosofis, perbedaan utama terletak pada orientasi. Nietzsche berbicara dalam nada aforistik dan provokatif, sementara Foucault bekerja dengan riset historis yang rinci. Nietzsche menyerang moralitas dari luar dengan palu, sedangkan Foucault menyusup ke dalam mekanisme kekuasaan dengan pisau bedah. Genealogi Foucault tidak mencari titik asal yang tersembunyi, melainkan memetakan serangkaian peristiwa kecil, keputusan administratif, dan praktik disipliner yang perlahan-lahan membentuk rezim kebenaran. Ia tertarik pada bagaimana sesuatu menjadi masuk akal, sah, dan normal dalam konteks tertentu.

Dalam contoh konkret, genealogi Foucault tampak jelas ketika kita memikirkan konsep “kesehatan mental”. Ia tidak menanyakan apakah depresi itu nyata atau tidak. Ia menelusuri bagaimana kategori tersebut terbentuk melalui rumah sakit jiwa, manual diagnostik, praktik terapi, dan kebijakan negara. Dengan cara ini, genealogi menunjukkan bahwa pengalaman batin seseorang selalu dibingkai oleh bahasa dan institusi yang lebih luas. Perasaan sedih berubah menjadi diagnosis; diagnosis berkonsekuensi pada terapi; terapi membentuk cara seseorang berbicara tentang dirinya.

Perbedaan lain yang penting terletak pada relasi dengan subjek. Nietzsche sering berbicara tentang tipe manusia dan gaya hidup, sementara Foucault menganalisis bagaimana subjek dibentuk melalui praktik sosial. Genealogi Foucault menyingkap bagaimana individu belajar mengawasi diri sendiri, menilai tubuhnya, dan mengatur hasratnya sesuai norma yang beredar. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini terlihat ketika seseorang menghitung kalori, memantau produktivitas, dan mengukur kebahagiaan melalui indikator eksternal. Subjek modern terbentuk melalui latihan-latihan kecil yang berulang, yang jarang disadari sebagai mekanisme kekuasaan.

Meski berbeda, keduanya bertemu pada satu titik penting, yakni genealogi sebagai praktik pembebasan. Nietzsche membebaskan dengan cara mengguncang nilai, Foucault membebaskan dengan cara memperlihatkan kontingensi. Keduanya menolak gagasan bahwa apa yang ada sekarang merupakan satu-satunya kemungkinan. Genealogi membuka ruang untuk berpikir bahwa segala sesuatu bisa menjadi lain, karena ia lahir dari rangkaian peristiwa yang tidak pernah niscaya.

Dalam praktik reflektif, genealogi mengajak seseorang untuk bersikap waspada terhadap kebenaran yang terasa paling dekat. Ketika seseorang berkata “begitulah seharusnya”, genealogi akan bertanya “sejak kapan” dan “melalui apa”. Ketika sebuah norma tampak alami, genealogi mencari jejak historis yang membuatnya tampak demikian. Dengan cara ini, genealogi menjadi latihan berpikir yang pelan tetapi tajam, yang membantu kita hidup dengan kesadaran bahwa diri, nilai, dan kebenaran selalu berada dalam proses menjadi.

Sumirnya, genealogi dari Nietzsche dan Foucault bukan sekadar metode filsafat. Ia adalah sikap eksistensial yang menolak kepatuhan otomatis terhadap warisan masa lalu. Dengan menelusuri asal-usul yang retak dan berliku, genealogi membuka kemungkinan hidup yang lebih reflektif, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab terhadap cara kita membentuk diri dan dunia bersama.

Posting Komentar

0 Komentar