Gagasan cyborg dalam pemikiran Donna Haraway muncul sebagai kritik tajam terhadap cara modernitas membayangkan manusia. Dalam esai seminalnya, “A Cyborg Manifesto”, Haraway memperkenalkan cyborg sebagai figur hibrida, yaitu pertautan tubuh biologis dengan teknologi, alam dengan budaya, organisme dengan mesin.
Dalam hal ini, cyborg bukan tokoh fiksi ilmiah
semata. Ia adalah metafora filosofis untuk memahami subjek modern yang hidup di
tengah jejaring teknologi, sains, dan kekuasaan. Secara konseptual, cyborg
menantang batas-batas klasik yang selama ini dianggap mapan. Pemisahan antara
manusia dan mesin, tubuh dan alat, alam dan teknologi dibuat rapuh melalui
gagasan cyborg. Haraway melihat batas-batas tersebut sebagai konstruksi
historis yang melayani kepentingan tertentu, terutama patriarki, kapitalisme,
dan humanisme eksklusif. Cyborg membuka cara berpikir baru tentang
identitas yang tidak berakar pada esensi tunggal. Identitas dipahami sebagai
hasil pertemuan relasi material, sosial, dan teknologis yang terus bergerak.
Pada aras praktis, gagasan cyborg terasa sangat
dekat. Bayangkan seseorang yang bangun pagi lalu meraih ponsel pintarnya untuk
mematikan alarm, mengecek pesan, membaca berita, dan membaca jadwal hariannya.
Ritme biologis tubuhnya sudah diselaraskan dengan teknologi digital. Aplikasi
kalender mengatur waktu kerja, aplikasi navigasi menentukan rute perjalanan,
dan algoritma media sosial membentuk cara ia memahami dunia. Dalam pengalaman
ini, manusia dan mesin tidak terpisah. Keduanya beroperasi sebagai satu
kesatuan fungsional.
Pengalaman tubuh juga berubah secara konkret. Jam tangan
pintar memantau detak jantung, langkah kaki, dan kualitas tidur. Data tersebut
memengaruhi keputusan sehari-hari, seperti kapan beristirahat, kapan bergerak,
kapan merasa “cukup sehat”. Tubuh tidak lagi dipahami hanya melalui sensasi
subjektif, tetapi melalui angka dan grafik. Subjek cyborg hidup dalam
dialog terus-menerus antara rasa di dalam tubuh dan informasi dari perangkat.
Keduanya saling membentuk persepsi tentang diri.
Dalam ranah identitas, cyborg membuka kemungkinan
pembacaan yang lebih cair. Di media sosial, seseorang membangun persona melalui
foto, teks, dan interaksi digital. Identitas menjadi hasil kurasi, pengeditan,
dan algoritma. Tubuh fisik berkelindan dengan representasi digital yang beredar
di ruang publik. Bagi Haraway, kondisi ini menyingkap peluang politis. Cyborg
menolak identitas yang kaku dan hierarkis. Ia memberi ruang bagi subjek
feminis, queer, dan marginal untuk membentuk diri di luar kategori
tradisional.
Cyborg
juga relevan dalam pengalaman kerja. Banyak pekerjaan hari ini bergantung pada
perangkat lunak, sistem daring, dan komunikasi virtual. Produktivitas seseorang
dinilai melalui respons cepat, kehadiran digital, dan performa yang tercatat
dalam sistem. Tubuh bekerja bersama mesin dalam ritme yang ditentukan oleh
teknologi. Kelelahan, stres, dan kecemasan muncul sebagai efek dari pertautan
ini. Refleksi cyborg membantu membaca pengalaman tersebut sebagai
persoalan struktural, bukan kegagalan personal.
Haraway tidak menawarkan cyborg sebagai utopia
teknologi. Ia mengingatkan bahwa hibriditas ini selalu sarat kekuasaan.
Teknologi dapat membebaskan, trtapi juga mengontrol. Cyborg menuntut
sikap etis yang sadar posisi. Pertanyaannya bukan apakah kita cyborg,
melainkan bagaimana kita hidup sebagai cyborg, bagaimana relasi kita
dengan teknologi membentuk solidaritas, ketimpangan, dan tanggung jawab
bersama.
Gagasan cyborg dari Haraway merupakan ajakan untuk berpikir dan hidup tanpa nostalgia terhadap kemurnian manusia. Kita mesti bahwa kehidupan kiwari kita berlangsung dalam jejaring yang rumit dan tidak murni. Dengan menerima kondisi ini, subjek cyborg dapat merawat cara hidup yang lebih reflektif, politis, dan terbuka terhadap kemungkinan baru. Cyborg bukan ancaman bagi kemanusiaan. Ia adalah cara untuk memahami kemanusiaan dalam dunia yang telah berubah.

0 Komentar